Selamat Datang Sahabat, Semoga bermanfaat apa yang ada di sini....

Wednesday, April 16, 2014

Aida

“ Di kala hati resah
Sribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapanku
Ingin terbang jauh...”

Lantunan lagu dari Ipod ku semakin membawa lamunanku ke titik kerinduan terdalam kepadamu.
Resah, gelisah mulai merasuki diriku yang sedari tadi menunggu kehadiran mu dibawah sinaran bulan purnama yang indah.

Teringat saat bertemu dengan mu, aku tidak melihat lagi dimana temanku saat itu, hanya kita berdua saat engkau hadir tiba-tiba. Angin menyibakkan rambut yang menutup mata mu, di situ aku melihat tatapan matamu yang tajam namun tulus.

“ Ainal “ Kata ku sambil kujulurkan tangan ku tanda ingin berkenalan dengan mu.
“Aida” jawab kamu dengan singkat setelah tepat 7 menit aku menunggu dengan posisi seperti itu.

Engkau datang seperti candu bagiku. Moralitas, kemanusiaan dan religi melarang hubungan gelap kita. Namun aku tak pernah ragu sedikit pun untuk mencintaimu. Ada satu hal yang membuat aku selalu nyaman dengan mu. Kamu tidak pernah memaksakan aku untuk menjadi seperti yang kau inginkan, aku pun begitu, Sayang.
 Kita menjalani kisah ini dengan tulus, suci bagi kita. 
“Aku tak peduli apa kata orang. Aku sayang padamu, Aida” jawab ku ketika kamu bertanya soal hubungan kita. 

“ Ainal, kamu gila ? Kamu sudah tidak waras ? “  Andi setengah kaget ketika mendengar kisahku padamu. 
“ Kamu tidak mengerti Ndi, aku merasakan hidup saat berada di dekatnya, adrenalin jiwaku tumbuh setiap kali bertemu denganya. Bahkan saat – saat tertentu aku merasakan melayang jauh diatas awan seperti mempunyai sayap, menggapai indahnya bulan, Aku tak bisa lepas dari nya, Ndi.”  Jawab ku pasti  
" Satuhal yang tidak aku dapat dari orang-orang yang pernah menjadi pasangan ku Ndi, Ketulusan dan memahami perbedaan. Semua memaksaku untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. aku tidak hidup" ujarku lagi.
Andi berpaling lalu bergegas melangkah “ Gila! “ katanya. 
Namun aku hanya tersenyum.

“Ainal” seperti biasa, kamu selalu mengagetkan aku dengan suara datarmu. 
“ Aida kenapa lama sekali ? “ aku bertanya.  
“ Aku harus pergi “ Jawab mu dengan datar. 
Aku mencoba mencerna, batas apa lagi yang dapat memisahkan kita. “ Maksud kamu ? “ Tanyaku, 
“ Aku harus melalui gerbang cahaya menuju dunia yang berbeda. Waktu ku telah habis!”  jawab mu terpatah-patah namun masih dengan suara yang datar “ 

Kamu berbalik badan tanpa memperdulikan aku, berjalan tanpa suara, melangkah tanpa jejak. 
“ Bagaimana cara untuk menjadi kamu, Aida?” Teriak ku padamu “ Tolong jelaskan kepadaku “ Teriak ku lagi “. Tetap tak ada jawaban dari mu. 
Aku hanya mendengar suara tawa khas mu “ Hi hi hi “.

Aku lunglai tak berdaya disini, hati ku hancur sudah, aku bukan aku tanpa kamu. Kamu kuntilanak terindah bagiku. Tak ada manusia yang seperti kamu. “ Tolong, Kembalilah Aida!” seruku dalam kegelapan malam.
 " Aku akan menjemput mu, Aida " Kulantangkan suaraku agar kau dengar sambil menggoreskan nadi ditangan kiriku. " Tiada lagi harapan " ujarku perlahan saat mata ini mulai tertutup dan melihat sesosok malaikat maut yang murka. 

Tuesday, April 8, 2014

Aku memilih "Tidak Memilih "

Aku Memilih " Tidak Memilih"

Angan ku melayang jauh, menerawang sejarah hidup ku 13 tahun yang lalu. Tahun 2001 bulan September aku menapak kan kakiku pertama kali diKampus STMT Trisakti.

Selesai Orientasi mahasiswa yang luar biasa, diriku tergugah. Orientasi tersebut begitu terkonsep tanpa kekerasan fisik namun mampu membuka matabatin "perubahan".

" Bang, Aku pecandu narkoba. Aku mau berubah bang, aku mau berhenti. Aku muak terus hidup dengan ketergantungan seperti ini." ujarku seraya memohon bantuanya untuk memberi jalan untuk ku. " Besok kau bawa pakaian kau, kau minta maaf sama orang tuakau dan minta izin sama mereka untuk kau tinggal dengan kami diPondok ini." beliau menjawab dengan logat Batak yang sangat kental, singkat jelas sembari lanjut memainkan gitar yang sudah usang dengan lagu perjuangan yang aku pun belum paham akan bait-baitnya.

Hari-hari berikutnya Abang itu bersama dengan abang serta kaka lainya banyak membina kami, kami tergabung dalam satu wadah perjuangan Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti lebih dikenal dengan KAMTRI, sebuah garis keras perjuangan mahasiswa melawan ketidak-adilan, melawan kebusukan dan menolak reformasi yang hanya diisi oleh orang-orang baru dengan kelakuan yang sama seperti sebelumnya.

Kami semua dengan bimbingan abang itu, mencari dana, turun kejalan berjuang ditengah terik matahari, membicarakan kondisi negara, dekadensi moral dan sebagainya. Tetapi jangan harap kita bisa tinggalkan kuliah, jika kami mendapat IPK dibawah 2,75 siap-siap Gesper abang itu melayang kepundak kami. " Sakit bang" ujar ku ketika beliau tau IPK ku hanya 1, " Sakit mana sama orang tua kau!!!  " lagi logat batak itu keluar dari mulutnya.

Entahlah akan jadi apa aku jika 13 tahun lalu aku tidak bertemu denganya.

Saat ini Jim Lomen Sihombing telah mencalonkan diri sebagai Caleg Partai Gerindra No Urut 8, Dapil Sumut 2.. tuk DPR RI
. Andai saja beliau diDAPIL daerah tempat KTP ku diterbitkan, maka ini akan menjadi PEMILU ku yang pertama, sebelumnya aku tidak pernah memilih siapapun untuk Ibu Pertiwi.

Saya akan pilih beliau karena saya kenal siapa beliau, perjuangan yang konsisten dan kesederhanaan menjadi cirikhas dari beliau. Harta, tahta dan wanita tidak pernah menggoyahkan garis-garis yang dinormakan oleh beliau menjadi nilai-nilai perjuangan yang tak akan pernah luntur.

Ku doakan abang, demi cita-cita perubahan bangsa ini. Bangsa yang sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila. Tetap semangat abang ku.

Fandi

Friday, March 21, 2014

Komitmen

Sumber foto
Hidup itu ternyata hanyalah fatamorgana dipadang pasir yang tandus. Saat seseorang mulai putus asa, terlihat sesuatu keindahan untuk melepas dahaga panjang tetapi itu hanya ilusi perpaduan panas yang memantul dari matahari dan uap-uap pasir, dahaga itu tetap ada.

Saat aku berada ditengah-tengah keputusan untuk menentukan jalan hidupku, batas antara moralitas dan nafsu mulai bias, tidak terlihat dan semu. Kemiskinan menjadi pembenaran untuk ku.  

Email dari pelanggan setia ku tertulis dengan singkat padat dan jelas disertai dengan foto “ Habisi tanpa rasa sakit” isi email tersebut. Ku pandangi  lampiran foto itu, “ Gadis malang, engkau terlahir cantik tetapi mengapa ada orang yang membencimu.” Ujarku dalam hati “ ah sudahlah, bukan urusanku.”  Aku tidak mengenal siapa pelangganku itu, tak perlu ku tahu, itulah komitmen dalam bisnis ini.

Setelah verifikasi pembayaran, aku segera membuat skema eksekusi dengan detail. Tibalah hari eksekusi. Pukul  22.00, aku sudah berada di loteng rumah gadis itu, baru ku tahu, ternyata dia tidak sendiri, dia tinggal dengan seorang bapak yang sudah renta dan tak mampu menggerakan seluruh anggota tubuhnya, ku perhatikan nampaknya itu adalah ayahnya, begitu dia memanggilnya. Setelah selesai dengan urusan orang tua yang tak berdaya itu, gadis itu pun tertidur tepat disebelah  orang yang hanya mampu berkedip itu. Jam 24.00 adalah waktu yang tepat pikir ku, gadis itu pasti sudah akan pulas sekali.

Pukul 23.56 oh tidak, aku melihat dia terbangun, merapihkan selimut ayahnya dan keluar dari kamar, 5 menit kemudian dia masuk, menggelar sajadah dan memakai mukena. Aku bisa saja membunuhnya sekarang, namun ku-urungkan niat, nanti saja setelah selesai ibadahnya. Selesai salam dia membuka lembaran – lembaran kitab didepanya dan segera membacakan ayat-ayat suci tersebut. Itu Surat Ar-Rahman, aku tak asing dengan surat itu, Ibu-ku sering membacanya sewaktu aku kecil. Suaranya lembut dan sangat indah, aku tidak boleh lemah, sekarang saatnya!.

Aku segera turun dengan cepat tanpa suara, berjalan perlahan kearahnya diiringi dengan lantunan merdu. Aku sudah berada tepat dibelakangnya, dan tepat saat itu juga dia berhenti membaca, lalu “ Apakah kau akan membunuh-ku ? “ dia tiba-tiba bertanya. Aku berusaha menutup kebingungan, kegelisahan dan kepanikan ku “ Iya “ aku menjawabnya. “ Apa yang dapat menghentikan mu membunuhku ?” dia kembali bertanya, “ Tidak ada, aku sudah berkomitmen.” Ujarku.

Aku menarik kepalanya hingga mendongak keatas, kubiarkan dirinya mengucap Syahadat segera ku sayat urat nadi lehernya agar dia tidak merasakan sakit, darah nya mengenai ayahnya yang masih terlelap. Gadis itu tidak berontak dan tidak kejang, tenang lalu terjatuh dalam keadaan bersujud. Sepasang mata yang melihat ku membunuhnya kita telah ku tikam tepat dijantungnya, aku tidak pernah meninggalkan saksi hidup. Telah selesai tugasku, tetapi aku hanya diam dan tak dapat beranjak dari mereka.

Aku berlutut dan menangis, darah yang mengalir dari tubuh gadis itu mengeluarkan aroma yang aneh dan wangi. Gadis itu membuatku hidup…


Ku ceritakan secara detail kejadian 3 bulan lalu dipengadilan kemarin, termasuk 12 kasus pembunuhan lainya. Kini hidupku tinggal beberapa bulan saja, vonis mati telah diputuskan untuk ku,  namun inilah hidup bagiku, bukan lagi fatamorgana. 

Tuesday, March 18, 2014

Tak punya IDE!

Aku termenung melihat kursor yang berkedap-kedip di aplikasi Microsoft word yang tergambar didalam monitor, termenung tanpa memikirkan sesuatu mencoba merakit kata-kata yang indah namun tetap saja buntu.

Aku berfikir sejenak, bangkit dari tempat duduk dan segera menelurusi anak-anak tangga menuju dapur. Aku segera membuat kopi, aromanya menyegarkan pikiranku sejenak. Aku beranjak kembali ketempat ku tadi, duduk dan termenung kembali.

“Oh mungkin dengan musik ide ku akan keluar!” gunamku dalam hati untuk membahagiakan otak kanan kiri ku. “ Ada hati yang termanis dan penuh cinta, tentu saja kan ku balas seisi jiwa “ ternyata lagu KAHITNA, aku merasa tersindir oleh lagu itu. Bagaimana tidak, “aku jomblo! Bagaimana aku balas dengan seisi jiwa, yang bawa cinta kepadaku saja tidak ada.” Kembali aku matikan musiknya, aku masih memegang kendali disini.

Aduh mengapa seperti ini, perasaan bercampur aduk, galau tidak senang-pun tidak. Apa yang harus kulakukan  untuk mendapatkan ide untuk menulis Promt 43 dari salah satu group yang aku ikuti di Facebook. “ Hmmm kenapa tidak buka FB saja” pikirku “ mungkin aku akan dapat ide disana!”

Setelah proses login aku laksanakan dengan benar, maka masuklah aku dihalaman home FB. Kursor aku gerak-gerakan untuk melihat-lihat status teman-temanku, ini aku lakukan karena tidak mungkin aku check inbox, selalu kosong, kalaupun ada pasti promosi. Menyedihkan!.

Status Rohim Mardjuki “ Akhirnya bisa kampanye bareng si Yayang “ dilampirkanya sebuah foto, mereka sedang asik berdua, yang cowo pake peci berkaos merah, si cewe kaosnya merah juga dengan mimik mata setengah dipejam, mulut dimajukan sambil menunduk.

Status Kiply M Said “Puluhan siswa-siswi terlibat baku tembak di lapangan sebuah SMA. Mereka saling menyatakan cinta “ . Ah sementara aku disini sendiri termenung tak punya cinta. Gagal muda…

Status Dian M Saragih “gapapa deh kita beda kartu GSM,asal nantinya nama kita ada di KARTU Keluarga yang sama.” Lagi – lagi soal cinta. Apa ga ada yang lain dipikiranya.

Status Rizky Malkibul “Cintailah seorang wanita saja. Dua wanita terlalu banyak. Tapi tiga wanita lebih baik daripada tidak ada. “ Aku langsung klik Log out. End of story.

Azan maghrib membuyarkan lamunan dan kebuntuan ku, “ ada apa ini? “ gunamku dalam hati . Ah, sudahlah. Soal ide nanti pasti datang ketika inspirasi menjadi rangkaian kata-kata yang dapat ku tulis dengan indah. Soal Jomblo, itu pilihan ku! Aku memilih untuk mengurus mama yang kini hanya bisa terbaring ditempat tidur, tak bisa ku berikan pekerjaan itu kepada orang lain, mama ku telah mengurusku dengan segenap jiwa dan kasih sayang, “ Aku siap kehilangan masa remaja ku” ujarku pada papa waktu kami memutuskan yang terbaik untuk mama.


“ Mba, kerjakan yang lain saja. Biar aku yang menyuapi mama. Ujarku pada asiten rumah tanggaku yang setia. “ Mama, ayo makan yah ma, setelah ini kita Sholat bersama “ Aku berusaha memilih suara terlembut ku untuk mama ku. 

Life is not a bad of  a roses.

FND 

Tuesday, March 11, 2014

Plastik Hitam

Angin sepoi-sepoi dikala matahari masih genit memberikan intipan cahayanya. Burung-burung mulai berkicau berlompatan dengan riang gembira menanti sang fajar.
Aku termenung dibalik pintu, duduk menatap langit cerah yang mulai berubah warna seperti habis kelam.

Mataku berarah kepada suatu objek yang terbang diantara tiang listrik, benda itu seperti berkibar dan mengeluarkan suara gemericik, "plastik" aku yakin saat suara itu berbunyi kembali.

Meliuk-liuk, berkibaran dan melesat kesana kemari kala angin membawanya. Melambai-lambai dan kemudian jatuh dihadapanku. Aku berusaha bergegas mencari secarik kertas dan isolasi. Tidak ada yang membantu karena kini aku sendiri.

Setelah kembali aku duduk ditempat ku tadi, segara ku buat lipatan-lipatan sampai menyerupai bunga mawar putih. "Simbol kasih sayang nan suci" ujar ku dalam hati.

Plastik hitam tadi kutempelkan pada papan, lalu ku semai bunga kertas itu ditengahnya, senyum menyeringai pada wajahku "Lucu juga!"

Aku menyimpan dilemari putih yang kini sudah usang, "untuk anak ku tercinta, jika dia kembali nanti." Semenjak kelumpuhan kaki - ku, istriku berangsur bosan kepadaku lalu meninggalkan aku dalam kesendirian. 

Thursday, March 6, 2014

Kenangan.


Kutarik garis tengah antara luka dan bahagia, kupisahkan kedua nya dengan jarak-jarak yang tak bisa ku ukur dengan penggaris yang ku pinjam dari anak ku. 

Sesaat aku termenung dalam duka, namun sesaat kemudian aku tersenyum dalam tawa. Rasa takut mengalahkan keinginanku untuk bangkit. Aku tersenyum kembali. 

Aku mencoba untuk berjalan keluar dari ruang pengap dibelakangku, mencoba melihat bunga-bunga bermekaran, " Bunga Aster " aku mendengar suara lembut dibelakangku, segera aku menoleh namun tiada siapapun disitu.

Sudahlah, aku hanya ingin berkeliling ditaman ini, kuperhatikan dari jauh "hmmm binatang apa itu " dibalut dengan bulu-bulu putih yang lebat, seolah menyapaku dia melompat kesana kemari dengan riang. aku mencoba mengingat sesuatu.

Itu kelinci, aku teringat ketika membelikan kelinci untuk anak ku. Gadis kecil berambut ikal nan cantik dengan mata indah itu, terlihat senang. " Terima kasih papa" ujarnya sambil memeluk ku.

Kenangan indah, aku mencoba mengejar kelinci itu, sudah dekat, aku meloncat dan meluncur. Tiba-tiba kelinci itu hilang. Hanya batu batu besar melukai tangan dan jemariku. " Pak Kirto, mengapa setiap hari selalu melukai tangan bapak? ayo kita temui dokter. beliau sudah menunggu dari tadi" ujar seorang wanita paruh baya sambil menarik tanganku. aku hanya tersenyum. Kembali tersadar aku masih di RSJ.

FF -Lupa-


Saat masa anak-anak, orang tuaku selalu mengingatkan belajar dan belajar, mereka selalu bilang jadilah orang sukses, melebihi ayahku, saat itu aku tak mengerti apa itu sukses.

Saat remaja, aku berpacu dengan waktu, setiap kesempatan kuambil untuk merubah nasib ku. kadang aku bertanya kepada Tuhan, " Adilkah diriMu yang terus memberikan diriku cobaan-demi cobaan" baru kusadari, hidup itu memang keras. saat ini aku tau, ayahku tidak sukses.

Memasuki masa produktif, Lihatlah diriku. Apapun yang kamu mau, aku sediakan.
tak perlu tau ku dapat dari mana, aku sekarang menduduki jabatan penting di Negeri ini. Sekarang aku bisa tertawa lebar, pergi kemanapun aku mau, liburan hanya berdua dengan mu, melakukan apa yang aku mau, terserah aku bisa melakukan semua yang aku mau. Persoalan tanggung jawab, biarlah anak buahku yang menyelesaikan, itu gunanya staff ahli, mereka kubayar mahal untuk melakukan tugasku. tak jelas siapa yang lebih pintar, aku atau mereka. yang pasti mereka bekerja untuk ku. aku punya harta, tahta yang mereka tidak punya. Saat ini aku tau apa sukses itu.

Saat terakhir ku sadari kini aku terjebak dalam fana, "Tuhan, aku lupa beribadah" seketika semua gelap dan kelam.

Tuesday, March 4, 2014

Vacant : Social Media Specialist


Cinta sampai Mati!


Sumber Gambar 
Bulir-bulir keringat masih kurasakan keluar dari tubuhku.
Ditengah rintik hujan yang semakin deras aku melihat dirimu bercahaya memancarkan keindahan sang surya.
Rambutmu yang hitam, panjang dan sedikit bergelombang mempertegas keindahan raut wajahmu yang penuh keteduhan. Han, tak tahu kah dirimu bahwa kamu masih saja idola ku sampai saat ini.

Aku tertegun sejenak saat kamu menangis, air mata membasahi pipimu, terus menetes seiring dengan derasnya hujan dan dentuman menggelegar dengan kilatan cahaya tanda bertemunya awan positive dan awan negative. 

Oh tidak, jangan seperti itu Han, bukan itu yang kumaksud cinta sampai mati, aku mencoba meraih tangan mu, namun tak bisa. “ Jangan Han, Tolong, jangan berbuat itu…. Biarkan aku tetap melihatmu bahagia mesti dengan orang lain. “ sekali lagi aku berusaha mendorong tubuhmu, namun tetap saja tidak berhasil.
Aku menangis, tidak kah kau dengar aku Han, aku tak ingin seperti ini. Cinta sampai mati bukan seperti ini, Han. Aku berusaha berlari namun tak ada yang melihatku, aku berusaha memanggil mereka namun tidak ada yang mendengar.  

Sungguh aku mencintaimu, bukan untuk membuatmu tersakiti, aku menyesal telah berulang kali meminta mu untuk berjanji mencintaiku sampai mati.
“Tolong, dia belum mati” kulihat dirimu meraih tubuh ku, memelukku pucat dan tak berdaya, darah mengucur dari nadimu. Bukan Seperti ini sayang, engkau mengotori cinta suci ini!

Inspirasi : Beberapa Fiksimini Game: CINTA Sampai Mati dan Cinta Mati.

http://mondayflashfiction.blogspot.com/2013/07/fiksimini-game-cinta.html

Monday, February 24, 2014

Sepucuk Surat

" Kemana dia pergi ? " tanya seseorang disudut sana. 
Bisa kulihat matanya melotot memandangku dibalik kacamata. 

" Aku ga tau pa, dia berlari secepat kilat " sahut ku tak peduli. 

" Papa sudah bilang, kamu kejar dia, kamu urus itu. HARUS DAPAT! " nadanya meninggi berhasil mencuri perhatian ku. 

" Ayo kamu masuk kesana, cari sampai dapat! " kembali dia memberi perintah.

"Siap, Boss" Langsung kujawab dan merebahkan tubuhku untuk memasuki ruang gelap dan pengap. 

Sedikit ragu, kumasuki ruang itu, "demi Bokap" dalam hati ku menggunam. Sengaja tak kugunakan senter, perlahan aku merangkak, debu dan bau pengap dari kasur kapuk diatas ku membuat ku bersin.

"Huaaaacuuuuuhhh " sengaja ku kencangkan suaranya. Tiba-tiba ku temukan sepucuk surat, aku berusaha membacanya walau gelap..... 

" Papa sangat bangga padamu Nak, hari ini kamu memutuskan untuk bertanggung jawab atas perbuatamu, meski kamu tahu akan kehilangan masa depan kamu, tapi kamu ambil resiko itu untuk bertanggung jawab. Ketahuilah nak, tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, namun tanggung jawab membuat hidup lebih indah " Isi surat itu. Aku tertegun tak kuasa menahan arus air mata. " Dapat ga ? " suara itu menghentikan lamunanku.

"Nah itu dia, bersembunyi dibalik  debu-debu yang menggumpal" gunamku seraya dengan cekatan aku menggerakan segenap tangan dan jemari ku untuk menangkapnya. " Got it" teriak ku, ku pegang kumis panjangnya sehingga dia hanya bisa menggerakan kaki-kakinya.... 

Aku keluar dari bawah kasur ku " Ini Pa, " sambil ku sodorkan kehadapanya. 


"Jangan mendekat, Papa lempar sepatu nanti, dari dulu papa Entomophobia* " Jawabnya singkat dan tegas. 

Kubuang kecoa itu keluar rumah " pergi, jangan kembali!" bisik ku kepada makhluk coklat itu.


Entomophobia - Takut pada serangga.


(FND) aka Bukan serangga

Friday, February 21, 2014

FF: Menghindar

Secepat kilat kubanting stir motor hitamku agar tidak mencium anak kecil yang menyebrang itu. 

Sesaat aku tertegun memandang senyum anak itu, aku pun tersenyum padanya saat kulihat Ban sebuah truck besar berusaha berhenti didepan mataku..........................................................................

Friday the 13th

Tergesa-gesa aku menaiki lift di gedung yang sudah 13 tahun berdiri dikawasan selatan jakarta. Ku biarkan mata-mata para satpam itu memandang ku penuh tanda tanya...... aku tergesa-gesa.

Mataku menatap tombol angka, tetapi mengapa aku menemukan angka 13 di lift ini, bukankah sebelumnya tidak ada? 

21 lantai yang kutuju, mengapa pintu terbuka dilantai 13, segera aku melihat jam tanganku......

Sekarang pukul 00.13 Hari Jum'at tanggal 13 January 2012.........

FF : Kupeluk Dirinya

Disaat saya mengharapkan keadaan yang baik-baik saja.........
Hati kecil ku bertanya " Seriously ? whats the point of life then? " 
Tersenyum bersimpul dibibir ini.......
Hidup adalah bagaimana kita menghadapi masalah..... 
Berliana Jangan takut sayank..... Kita hadapi semuanya bersama 

Kupeluk dirinya sambil menatap cermin dihadapanku....


FF : Obat Seumur Hidup

Hmmmm lelah sudah raga ini harus selalu hidup dengan larutan-larutan kimiawi yang terpadu melawan penyakit ku. 

Bukan tanpa efek samping, tubuh ini menjadi berkeringat, nafas ini kian berat dan tulang-tulang serasa retak menjelajar kian menggerogoti saraf-sarafku. 


Aku sudah lelah, kubiarkan sehari tubuhku lunglai tanpa obat itu, namun kau tak ada...................


Sekarang kau terbaring menangisi diriku dipelukan.


Ku ingin kau tau, obat terbaik adalah dirimu......

Terlambat……


Aku terus berlari di lorong gelap ini, tak peduli semua rekan kerja ku memanggil ku….. aku terus berlali.
Ini semua karena meeting intern diujung petang yang tak kuduga…. Tiba-tiba bos memanggil semua staff untuk duduk bersama membahas yang tadi pagi dibahas juga…… ach lelah…..

Setelah selesai aku langsung berlari, tidak sempat menggunakan lift, aku beralih ke tangga darurat, 14 lantai aku bisa mempercepat tempo ku…. Sambil bergunam ku telusuri anak-anak tangga….. Bau rokok….. “sial sudah ada larangan merokok dalam gedung, mengapa masih dilanggar, Sontoloyo” tambah lagi kegunamanku…. Arghhhhh kesal aku hari ini…..

Tibalah diujung jalan, kulihat kekanan dan kekiri, ternyata dia sudah ada disebrang jalan, berjalan angkuh tak memperdulikan aku sama sekali……….
Aku berusaha teriak sekuat tenaga…….. “MAS BEJOOOOOOO, BAKSOOOOOOOOO” dengan hentakan tangan aku berusaha menguatkan suaraku….
Yang kupanggil menjawab….” Haaabisssss masssss, Alhamdulilah……”

(FND)

FF: Diujung kematian....


Aku haus..... kurasakan bibir ini menggerutu
"Sekarang pada siapa kamu meminta minum" suaranya menggelegar seperti dentuman paku alam. 
"mungkin kamu mempunyai sedikit air untuk dahagaku..." aku berusaha menjawab meski sakit dan kering tenggorokanku. 
Sosok tinggi hitam tak jelas kulihat wajahnya hanya tertawa dan berkata " aku hanya memiliki timah panas dan bara api untuk mu "

Aku berusaha bangkit..... Namun........... achhhh semua terlambat....

(FND)

Friday, November 26, 2010

Punya Blog Tapi Ga diupdate

Pagi ini saya baca sesusati tentang SITTI.

Sebuah kenekatan yang dapat menjadikan rasa nasionalisme dan inspirasi sendiri bagi saya.

dari mulai pempek palembang sampai nekat melawan goegle......

Wow sebuah pemikiran yang Unik dan akhirnya mengingatkan saya pada blog ini.......

hmmm pengen nulis- nulis lagi....
tapi kapan yach...........

See u.....

Tuesday, December 9, 2008

Semoga Kita mendapat hikmah dari Kisah di bawah ini.
Diambil dari Milis Hard rock, catatan Andi Noya.



Kaca Spion (Catatan Andy Noya (kick Andi))..


Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri
Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta.

Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke
sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar
perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang
Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir sayaterus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi
kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju
waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami -ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di
mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan. Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado
langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua
orang kaya itu jahat.

Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.

Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak
ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik
bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.

Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.Sang ibu, yang
lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Refleksi:
Mengapa harus sombong dengan kekayaan yang kita miliki, karena kekayaan
tiada berguna sama sekali,lebih baik menghidupkan lagi rasa toleransi yang ada pada diri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Wednesday, December 3, 2008

SAYA ORANG YANG DIRUMAHKAN!!!!!

pagi ini December 3 2008 saya berangkat jam 7.00 Am, Wah kesiangan nich, tapi memang sengaja saya berangkat jam segitu karena tidak langsung ke kantor, Bayangin aja Bogor - Cempaka mas berangkat jam 7.00, weks mau sampe jam berapa dikantor, Saya ingin mampir dulu ke China Embassy untuk menjemput Visa client.

Ayah berangkat yach Bun... Langsung ku pacu sepeda motorku menelurusi liuk - liuknya Jl raya Pemda Bogor, lewat jalan tembus menuju KSU tikungan demi tikungan terlewati dengan gaya Rossi, hmmm tikungan selalu menarik untuk di lalui I love This Road.....

masuk ke Kota Bunga Depok kasih sign Kiri ( Klo mau Belok yach Kasih tanda Biar orang belakang tetep nyaman ) yach tibalah di tikungan terakhir sebelum keluar dari kota kembang setelah melewati tikungan saya melihat seorang dengan tongkat kayu sedang berdiri termenung tidak berkedip ditengah jalan pula, Ups kasian ach orang buta ( pikir saya ) mau nyebrang kali, saya injak rem motor butut saya lalu cabut kunci langsung menuju orang tersebut.

" Pagi pak " sapa saya pada orang tersebut " maaf Bapak mau Menyebrang ???, Ayo pak mari"
namun seraya orang yang kaget karena tersadar akan adanya suara saya orang tersebut melihat tajam kearah saya ( wah ini sich Bukan orang buta hehehe Malu dech gw ) orang tersebut berkata " SAYA ORANG SINI, SAYA ORANG YANG DIRUMAHKAN!!! SAYA ORANG SINI BUKAN ORANG BUTA " entah karena kesal dengan saya karena menganggap beliau buta atau karena uneg2 dihatinya, kemudian Orang itu melunakkan suaranya dan berkata " Saya menyimpan omongan dimulut saya " saya menjawab " ada apa Pak, Bapak nampak sedang Bengong dan berbahaya karena di tengah Jalan, Ayo kita nyebrang Dulu...."
sambil saya tarik tangan kirinya.

disela - sela penyebrangan keluar suara dari mulut beliau " saya diPHK, saya bingung, saya sudah kerja puluhan tahun di perusahaan itu tetapi saya kena PHK juga, Anak saya masih sekolah semua " Oh Tuhan jantung ini berdebar ingin berbuat sesuatu namun tidak bisa.... Sampai di pinggir jalan saya keluarkan dompet dan saya ulurkan satu - satunya uang di dompet saya kepadanya, tetapi apa yang terjadi sungguh diluar dugaan saya Lelaki yang belum terlalu tua namun kelihatan kerut - kerut perjuangan hidup di mukanya itu menolak uang saya ( Hari gini bro masih ada yang nolak 50ribuan???? ) sungguh manusia super yang ada di hadapan saya ini..... beliau berkata " saya tidak Butuh Itu Dek, Saya butuh Kerjaan!!!" Pak saya ingin membantu Bapak namun ditempat saya bekerja belum ada lowongan" saya menjawab... Hmmmm " Pak, bapak Sudah Sarapan? saya dibawakan bekal pak oleh istri saya lumayan banyak nasinya kita sarapan bersama yach pak" saya berlari menuju motor saya ambil tempat makanan yang dibuatkan istri lalu kembali kepadanya dan kami mencari tempat yang agak nyaman ketemu sebuah warung yang tidak jauh dari lokasi, saya pesan teh botl 2 dan membuka tempat makan tersebut hmmm... saya bagi dua nasi dan lauknya " mari pak Kita makan bersama semoga makanan yang sederhana ini dapat menjadienergi untuk bapak mencari pekerjaan lagi nanti" tibalah waktu makan hehehe sambil makan kita banyak berbicara tentang anak - anaknya beliau, tentang pengalaman beliau tentang keluarga saya dan guyon - guyon yang membuat suasana cair, sampai beliau berbicara " terima kasih ya dech masih ada orang yang melihat 'orang kecil' seperti saya " tessssss malu rasanya hati ini, sedih rasanya jiwa ini sekejam itu kah dunia???? Saya jawab " Ach Tidak Pak, bapak sungguh 'tidak Kecil' bapak Sehat, Punya tangan, punya kaki, fisik masih kuat, punya Otak untuk berfikir, punya hati untuk bertindak dan punya kekuatan untuk merubah sesuatu, manusia adalah konsep penciptaan yang paling baik Dari Tuhan... jangan menganggap kita kecil pak" jawab saya sambil menutup tempat makan yang telah kami pakai tadi, langsung ku ambil teh botol ku isap kesegaran tehnya serupuuut ach segar.... " de, Terima kasih yach atas bantuan, terima kasih atas makananya..." weks saya jawab, " pak saya yang harusnya terima kasih dari Bapak, bapak telah mengajarkan saya semangat baru, bapak telah memotivasi saya bahwa jika ingin mendapatkan uang tidak ada yang instan, Kerja dan berkarya yach itulah pelajaran yang saya dapatkan dari bapak...., Tuhan Sungguh hebat telah mempertemukan saya dengan Manusia Super seperti Bapak. " mendengar saya berbicara seperti itu saya melihat air matanya jatuh melewati rongga-rongga kulit di pipinya lalu belia Berkata " de, Sungguh suatu anugrah yang Tuhan kasih ke saya, Sungguh niatan saya tadi adalah Ingin membunuh diri,( kaget kagak Loech Bro )tadi saya merasa sudah tidak pantas lagi hidup, saya bingung mau kasih makan apa anak dan istri saya, Malu rasanya saya, tetapi sekarang saya mendapat pelajaran dari ade, saya masih punya diri saya untuk berusaha lebih maksimal lagi untuk mereka, tidak sepantasnya saya bersedih karena diPHK....."
Saya jawab " betul pak, Saya yakin bapak akan mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya...." setelah itu kami berpamitan untuk saling menyelesaikan urusan masing - masing. Tetapi saya Yakinkan sekali lagi bapak tersebut " PAk Saya ga mau liat di koran ada nama bapak yang bunuh diri " beliau menjawab " jangan beli korannya de, Saya tak akan bunuh diri :" Alhamdullilah..............

Saya lanjutkan perjalanan, Sungguh berarti Tuhan Kasih sama saya Hari ini......
sungguh dampak krisis Global telah kita rasakan bersama, pengangguran dimana - mana makin bertambah... apa yang kita bisa berbuat untuk mereka???? adakah keinginan untuk membantu mereka???? bagaimana caranya membantu mereka???

Mohon klo ada yang punya ide, inspirasi dan saran berikan comment di Blog saya.
http://rfandia.blogspot.com/
Yuk mari sama - sama kita cari solusi bagi mereka, mereka punya keahlian sebenernya tinggal wadahnya saja tidak ada, Saya punya planing untuk membuat semacam pelatihan Blogging untuk mereka, agar tentunya mereka dapat memasarkan produk - produk yang akan mereka karyakan, yach mudah - mudahan ilmu yang sedikit dapat membantu mereka.


Thanks

Tuesday, November 25, 2008

Motivasi dari Ayah dan Doa Dari Ibu

hmmm Minggu yang cerah Menjadi sangat menyedihkan karena harus berpisah dengan orang Tua.......

Bukanlah lagi rahasia klo aku punya kesalahan dimasa lalu yang membuat gw harus menumpang tempat tinggal dirumah orang tua dan mertua, tetapi mereka menerima dengan lapang, hanya saja ada beberapa hal yang membuat aku harus pergi dan tinggal bersama mertua.

Malu hati ini rasanya namun sebuah esalahan terdahulu tidak dapat aku ubah dan tidak dapat ku sesali....

Sebuah perjalanan hidup yang aku harus jalani walau terasa pahit namun inilah yang aku harus jalani karena masa lalu yang tak bisa kurubah.

Well aku ga mau bahas masa lalu ku hehehe japri aja klo pengen tau yang pasti banyak pesan moral dari kejadian masa lalu.

Tiba waktu pamitan :
kucium tangan mama ku, ku bungkukkan jiwa raga ini kepadanya kuucapkan permohonan maaf karena selalu merepotkan, menetes air mata ini tak dapat kubendung, malu rasanya hidup hanya merepotkan orang tua....
Pesan yang keluar dari Mulut Mama ku " jaga dan sayangi Anak - anak kamu, jaga mereka agar kelak menjadi orang yang berguna, tanggung jawab itu sekarang ada pada dirimu, Sayangi dan Cintai Istrimu jangan kamu sakiti hatinya sebab istrimu adalah seorang ibu bagi anak2 kamu, istri mu sudah mau merawat dengan ikhlas anak - anak kamu jadi tak pantas seorang suami menyakiti hati istrinya.... Tak perlu kau minta maaf pada mama karena mama sudah memaafkan semua kesalahan - kesalahan kamu, bagi mama kesalahan terdahulu adalah kesalahan mama karena tak mampu mendidik kamu dengan benar ( Tambah Sedih ga tuch Bro, Sist Mau ku dekap dengan erat mama ku rasanya Tolong jangan katakan itu ma itu adalah pribadi kesalahan ku ) jangan kamu ulangi kesalahan mama, didik anak - anak kamu dengan kasih dan sayang yang tulus, jangan pernah kau berikan mereka makan dari uang yang haram ( Weks ada aja uang panas yach Dikantor mah, Tobat dah gw mulai sekarang ) dan jangan lupa dalam kondisi apapun kamu harus ingat pada Allah, Sholat jangan ditinggal ( nah ini die yang susah nich padahal ga sampe lima menit tapi susah banget kayaknya yach ) Restu mama selalu menyertai mu ................."
Tak sanggup ku gerakkan bibir ini menerima nasehat, aku hanya diam dengan air mata bercucuran, biarlah orang mengatakan aku cengeng..... yang pasti aku menangis dihadapan bidadari nansuci hatinya didepan orang yang tak kenal pamrih dalam merawatu didepan matahari hidupku...............

Tibalah saatnya berpamitan dengan papaku, beliau sedang tidak ada dirumah... jadi pamit melalui sms.

" Pa, Kaka Pamit. Maafin kaka selalu merepotkan, maafin kaka yang belum bisa jadi seperti apa yang papa inginkan, maafin kaka yang selalu meminta...."

15 Menit kutunggu tidak ada balasan, Aku jalan dengan mengendarai sepeda motor pemberian Ayah ku, Sepeda motor yang selalu menyertaiku berjuang mencari sesuap nasi dan segenggam berlian, hehe. sepeda motor yang sudah uzur namun hanya meminta ganti ole dan bensin .........

Di tengah perjalanan kudapati HP ku berdering membuat diriku meminggirkan laju sepeda motor ( Ga baik Bro Baca SMS sambil Jalan, Bahaya bagi diri sendiri dan orang lain )

Ku ambil hp ku dari tempatnya lalu ku baca
" SETIAP manusia tidak Luput Dari Kesalahan, kegagalan dan Dosa - dosa.... Inilah Pamitan Untuk Kedewasaan, kesadaran dan KESUKSESAN Kalian. Papa yakin Dengan Kesuksesan Kalian dan dengan Jujur sangat mencintai dan menyayangi kalian( Sampai disini lagi2 Air mata bercucuran ditengah ramainya kendaraan ) , dan dengan ikhlas memaafkan. Fandi dan Fariz ( ade Ku ) kalian penerus keturunan dan Generasi Tjio Papa dan papa yakin kalian tidak akan mengecewakanya( disini Takmampu rasanya kaki ini berdiri ) . Ok SUKSES selalu. berusaha selalu jujur dan jangan lupa sering contact papa dan mama"

Dalam hati aku berjanji akan membahagiakan mereka, Malu rasanya menemui mereka tanpa membawa hasil, tanpa menceritakan usaha yang keras, tanpa menceritakan perjuangan hidup....

Pa , ma Makasih atas Momentum berharga ini, Tak akan kulupa kalimat kalian, bahkan akan kupakai tulisan ini untuk anak - anak ku kelak.....

kaka sayang papa dan mama..............

Games