Thursday, March 6, 2014
FF -Lupa-
Saat masa anak-anak, orang tuaku selalu mengingatkan belajar dan belajar, mereka selalu bilang jadilah orang sukses, melebihi ayahku, saat itu aku tak mengerti apa itu sukses.
Saat remaja, aku berpacu dengan waktu, setiap kesempatan kuambil untuk merubah nasib ku. kadang aku bertanya kepada Tuhan, " Adilkah diriMu yang terus memberikan diriku cobaan-demi cobaan" baru kusadari, hidup itu memang keras. saat ini aku tau, ayahku tidak sukses.
Memasuki masa produktif, Lihatlah diriku. Apapun yang kamu mau, aku sediakan.
tak perlu tau ku dapat dari mana, aku sekarang menduduki jabatan penting di Negeri ini. Sekarang aku bisa tertawa lebar, pergi kemanapun aku mau, liburan hanya berdua dengan mu, melakukan apa yang aku mau, terserah aku bisa melakukan semua yang aku mau. Persoalan tanggung jawab, biarlah anak buahku yang menyelesaikan, itu gunanya staff ahli, mereka kubayar mahal untuk melakukan tugasku. tak jelas siapa yang lebih pintar, aku atau mereka. yang pasti mereka bekerja untuk ku. aku punya harta, tahta yang mereka tidak punya. Saat ini aku tau apa sukses itu.
Saat terakhir ku sadari kini aku terjebak dalam fana, "Tuhan, aku lupa beribadah" seketika semua gelap dan kelam.
Tuesday, March 4, 2014
Cinta sampai Mati!
![]() |
| Sumber Gambar |
Bulir-bulir
keringat masih kurasakan keluar dari tubuhku.
Ditengah
rintik hujan yang semakin deras aku melihat dirimu bercahaya memancarkan
keindahan sang surya.
Rambutmu yang
hitam, panjang dan sedikit bergelombang mempertegas keindahan raut wajahmu yang
penuh keteduhan. Han, tak tahu kah dirimu bahwa kamu masih saja idola ku
sampai saat ini.
Aku tertegun
sejenak saat kamu menangis, air mata membasahi pipimu, terus menetes seiring
dengan derasnya hujan dan dentuman menggelegar dengan kilatan cahaya tanda bertemunya awan positive dan awan negative.
Oh tidak,
jangan seperti itu Han, bukan itu yang kumaksud cinta sampai mati, aku mencoba
meraih tangan mu, namun tak bisa. “ Jangan Han, Tolong, jangan berbuat itu…. Biarkan
aku tetap melihatmu bahagia mesti dengan orang lain. “ sekali lagi aku berusaha
mendorong tubuhmu, namun tetap saja tidak berhasil.
Aku menangis,
tidak kah kau dengar aku Han, aku tak ingin seperti ini. Cinta sampai mati
bukan seperti ini, Han. Aku berusaha berlari namun tak ada yang melihatku, aku
berusaha memanggil mereka namun tidak ada yang mendengar.
Sungguh aku
mencintaimu, bukan untuk membuatmu tersakiti, aku menyesal telah berulang kali
meminta mu untuk berjanji mencintaiku sampai mati.
“Tolong,
dia belum mati” kulihat dirimu meraih tubuh ku, memelukku pucat dan tak berdaya,
darah mengucur dari nadimu. Bukan Seperti ini sayang, engkau mengotori cinta
suci ini!
Inspirasi :
Beberapa Fiksimini Game: CINTA Sampai Mati dan Cinta Mati.
http://mondayflashfiction.blogspot.com/2013/07/fiksimini-game-cinta.html
Subscribe to:
Posts (Atom)


